"Yg demikian itu sesungguhnya lebih terlambat datangnyadari pada penyesalan".
Mereka bertemu utk pertama kali pada suatu pagi disebuah coffee shop yg ramai. Coffee shop itu penuh orang akan or telah menempuh perjalanan panjang. Wajah mereka lelah, rambut mereka kusut, pakaian mereka penuh kerut. Lelaki itu baru menempuh penerbangan panjang, dan tengah menunggu penerbangan lanjutan. Julia baru kembali dari Satorini, dan hendak bertolak menuju Jakarta.
Mereka bertemu dimeja sudut, jauh dari konter yg sibuk. Julia sudah duduk disana terlebih dahulu, menyesap secangkir kopi hangat. Lelaki itu datang kemudian, dng koper dan secangkir kopi panas ditangan. Dari kejauhan Julia sudah melihat lelaki itu mencari-cari meja kosong dng wajah letih.
Julia tak tahu apa yg membuatnya melambai pada lelaki asing itu. biasanya, dlm situasi itu, Julia akan menunuduk memandangi kopinya or membaca buku, menghindari kontak mata dng siapapun agar ia tak perlu berbagi meja. Julia tak terlalu suka mengobrol or beramah-tamah dng org asing, apalagi jika ia sendiri lelah.
Lelaki itu menangkap lambailan Julia dari sudut matanya. Ia menoleh dan menyipitkan matanya, seakan hendak meyakinkan diri bahwa Julia memang melambai kearahnya. Julia tersenyum, mengangkat tas, dan memberikan tanda dng menunujuk bangku kosong dihadapannya. "It's empty!" ujarnya tanpa suara, berharap lelaki itu bisa membaca gerak bibirnya.
Wajah lelaki itu berubah cerah. Ia tersenyum, lalu bergegas menuju meja Julia. Ketika sosoknya semakin dekat, Julia berpikir betapa menariknya lelaki berkulit gelap itu. Ada sesuatu dlm pembawaannya yg menawan hati Julia, walau pada saat itu Julia belum tau apa persisinya.
"Maaf sekali, meja yg lain penuh. Terimakasih karena saya boleh duduk disini, Semoga saya tdk mengganggu."
"No problem", Ujar Julia, kemudian ketika lelaki itu telah duduk dihadapannya, ia memberanikan diri utk bertanya. "India?"
Lelaki itu melepaskan jas dan menyampirkannya disandaran kursi. "Pakistan", ujaranya seraya tersenyum. Julia tersipu.
Pakistan. Sebuah negeri yg jauh, yg tdk pernah didengarnya kecuali dlm berita-berita pengeboman or terorisme ditelevisi. Pakistan bukan negeri yg biasa hadir dlm dongeng-dongeng tentang raja, putri, gajah, ular, dan harimau. Julia baru sadar ia nyaris tak tahu apa-apa tentang Pakistan, kecuali tentang pemisahan berdarahnya dari India Dan Benazir Bhutto. Tiba-tiba saja, Julia malu karena telah begitu spontannya mengundang lelaki itu utk duduk dimejanya. Kini, ia bahkan tak tahu lagi harus berkata apa.
Tetapi lelaki itu sudah dahulu mencairkan suasana dng mengulurkan tangan. "Shaheryar. But you can call me Shah".
Jabatan tangan itu singkat, tetapi erat. Dan hangat. Julia suka lelaki dng jabatan tangan erat. Sesaat, ia merasakan jemarinya yg terasa hangat dlm genggaman tangan lelaki itu. Detik berikutnya, pemikiran lain membuat pipinya bersemu: lelaki itu memakai cincin nikah.
"Pergi? Or pulang?" tanya Shah.
"Pulang". Julia tersenyum. "Kamu?"
"Sejujurnya, I don't know for sure", jawabannya. "Where are you heading?"
"Jakarta", ujar Julia. Ia menyesap kopinya yg sudah agak dingin seraya mencoba menebak arti tersembunyi dibalik jawaban Shah barusan.
"Oh, Indonesia! dari tadi saya mencoba menebak dari man kamu berasal. Salah. Tebakan saya Thailand or Fhiliphine.
Kini giliran Julia tertawa.
"Oh ya, boleh saya tanya sesuatu?" Shah berdeham.
"Silahkan".
Lelaki itu menunjuk brosur yg ada didepan Julia. "Sejak tadi saya penasaran. Kamu melihat-lihat peti mati seperti sedang melihat-lihat katalog tas tangan..."
Semasa kecil, Juliatak pernah punya teman dekat. Anak-anak sebaya menganggapnya pemabawa sial, karena ia tinggal dilahan perkuburan-jauh diperbukitan yg dikelilingi pohon-pohon rindang, dan selalu diantar kesekolah dng mobil jenazah itu.
Tetapi Julia tak pernah terlihat sedih. Sepertinya ia tdk terlalu peduli. Meskipun anak-anak sebayanya tidak ingin berteman dng Julia, mereka juga tak pernah mengusiknya. Beberapa dari mereka percaya Julia bisa menjatuhkan kutukkan. Mereka membiarkan Julia sendiri, persisi seperti yg Julia inginkan.
Sebagai anak tunggal, Julia memang terbiasa dng kesendirian. Ia tak suka kebisingan. Tak suka anak-anak berlarian dan berteriak-teriak keras. Karenanya, tak memiliki teman bukan masalah bagi Julia. Ia mengubur diri dlm kertas-kertas, mendengarkan musik, dan membaca buku.
Orang tua Julia sering mengasihani anak perempuan mereka, yg tak pernah pergi kemana-mana, yg tak pernah mengundang kawan-kawan sebaya main kerumah. Mereka pikir Julia sedih dan kesepian.Karenanya, orang tua Julia sering menyuruhku menemani Julia dan mengajaknya bermain. ATetapi Julia tdk terlalu membutuhkan teman. Ia sudah senang dan penuh berada dlm dunianya sendiri. Sering kali, aku justru berpikir Julialah yg menemaniku, duduk membaca direrumputan, sementara aku bermain layang-layang, dan bukan sebaliknya.
Masa-masa ketika Julia duduk disekolah menengah atas, keadaan berubah. ARumah pemakaman dan daerah perbukitan milikorang tua Julia berkembang pesat menjadi daerah pemakaman elite. Mereka mengeruk tanah dan membuat danah buatan, membuat restoran mewah dan ko9lam renang, kapel, masjid, juga kompleks khusus utk pagoda china. Jalan setapak dibuat, dng rerumputan cantik dan bunga-bungaan, juga lampu-lampu menggantung seperti dlm film lima puluhan. Dan akhirnya, sebuah wastu yg cantik, terdiri atas 15 kamar, dng ruang tengah dan dapur yg luar biasa besar, tempat tamu-tamu dari jauh melayat dapat menginap selama beberapa waktu.
Perbukitan itu telah mengubah pemakaman yg suram menjadi tempat pemakaman paling mewah dikota. Orang-orang terkaya dan terpandang sudah menyewah slot tanah disana sebelum mereka meninggal dunia, bahkan memesan kapling utk anak-anak mereka kelak. Wastu cantik bergaya Tropis Mediteronia yg tadinya hny digunakan utk tempat tinggal mereka yg hendak melayat, kini juga sering didatangi mereka yg hendak mencari kesunyian tanpa pergi jauh-jauh dari kota. Ada beberapa penulis terkenal yg sering tinggal disini selama 1 or 2 bulan, menulis dikelilingi sunyi, rerumputan, pohon cemara, kabut, dan dannu dikejauhan.
Tiba-tiba Julia menjelma dari anak pekuburan aneh menjadi anak perempuan kaya raya yg tinggal disalah satu daerah paling elite dikota. Banyak anak-anak perempuan maupun laki-laki yg mulai mencoba berteman dngnya. Tetapi Julia tetap bergeming. Ia memang tdk pernah membutuhkan teman.
Ketika kedua orangtuanya meninggal dlm kecelakaan mobil, Julia mengambil alihn taman pemakaman itu pada usia 25 tahun dan memintaku menangani urusan manejemen.
Setahun kemudian, ia bertemu dng Shaheryar.
"Peti mati ini harganya lima ribu dollar", ujar Julia seraya menunjukan brosur peti mati yg sedang dilihatnya kepada Shah. "Tutupnya diukir seorang seniman diSantorini. Klien saya meminta dikubur dlm peti mati ini ketika ia meninggal nanti. Berat peti ini 60kg. Bisa dibayangkan betapa mahalnya ongkos kirimnya. Don't think it's ironic?"
"What is?" tanya Shaheryar.
"All this", Julia mengangkat bahu seraya menatap brosur peti mati itu. "Di tempat saya, pemakaman dipersiapkan dng begitu khusyuk, begitu indah. Nisan yg bersih, rerumputan dan tanah yg gembur, air mawar, peti mati berukir, bangku-bangku cantik, bunga-bunga segar yg baru dipetik malam sebelumnya, bingkai foto yg diukir dng persisi, upacara dng makanan belimpah, juga wime dan sampanye terbaik. Dikota yg sama, seorang ayah harus membawa mayat anak perempuannya keatas kereta komuter yg penuh berjejel utk dimakamkan dikampungnya karena disini tak punya biaya utk menguburkannya. Ketika turun distasiun, ia ditangkap polisi karena ada org yg melaporkannya berkeliaran membawa-bawa mayat.
"Saya mengerti maksudmu", Shah mengangguk pelan. "DiBalochistan, dekat perbatasan Pakistan dng Afganistan, org ditemukan mati tergantung dicabang-cabang pohon. DiQuetta anak-anak muda diantarkan tak bernyawa kepintu rumah orangtua mereka, dng badan lebam-lebam dan anggota tubuh hilang. Tidak semua org bisa sebegitu beruntung: meninggal dunia dng indah. In the way they want to".
"Sebagian org bilang say murah hti, karena 2,5% keuntungan rumah pemakaman umum dikampung-kampung sekitar. Agar org yg sakit jiwa, melarat, pemulung, yg mati tanpa nama, bisa dimakamkan dng layak. Kenyataanya, saya bukannya murah hati. Ini hny cara saya utk tdk merasa terlalu bersalah. Tidakkah kamu pikir hidup bisa sangat kejam, kadang-kadang?"
Shah menatap Julia dalam-dalam, lalu tersenyum. "Ya, tetapi hidup juga bisa sangat ramah. Seperti hari ini. Ia mempertemukan saya dngmu". Lelu lelaki itu meletakan telapak tangannya yg hangat diatas punggung tangan Julia.
"How do you want your funeral to be like?"
Saat itu, kopi Julia sudah lama habis. Ia bisa saja meninggalkan coffe shop itu. Tetapi sesuatu mengenai Shah menariknya seperti maghnet, memaksanya tetap tinggal.
Shah menatap Julia lekat-lekat dng terkejut, tapi kemudian lelaki itu tertawa. "Kita baru kenal beberapa menit dan kamu sudah merencanakan upacara kematian saya?"
Julia ikut tertawa. "Saya selalu percaya, mengetahui bagaimana sesorang ingin dimakamkan bisa mempertahankan banyak hal tentang orang itu.
"Really? Interisting". Shah menyesap kopinya dan tersenyum. "May I hear you first?"
"Sabtu pagi. Tnah dan rerumputan basah sehabis hujan. Sedikit angin, membawa wangi pandan dari kejauhan. Langit cerah, matahari bersinar hangat. Burung-burung terbang. Serombongan kawan dng pakaian warna warni. Mereka membawa gitar. Mungkin juga jus jeruk dan wine. Merka akan duduk-duduk disekitar makam, menggelar tikar, menyanyi, berdansa, membaca karya Keats dan Plath sampai sore. Lalu mereka menggambar dan menandatangani nisan sebelum pulang. You turn".
Shah tertawa. "Wow! Impressive. Saya harus berpikir lama. Tidak setiap hari ada org menanyakan hal semacam itu". Ia mencubit-cubit bibir bawahnya.
Julia baru menyadari betapa tampan lelaki itu ketika tetawa. Kulitnya yg gelap. Matanya yg dlm. Ramburnya bergelombang. Wajahnya yg persegi dan berkesan serius.
"Mungkin sesuatu yg sepi", kata Shah akhirnya. "LAngit mendung. Sedikit gerimis. Hanya ada satu-dua org yg datang. Meninggalkan bunga diatas nisan. Lalu org itu akan duduk disana, dibawah pohon rindang yg menaungi makam. Mungkin melukis. Membaca buku, or bercakap-cakap dng saya. Daun-daun jatuh disekitar mata kakinya. Begitu saja".
"That's such a lonely one", kata Julia
"Well, yours is such a mess".
Lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Hari itu, Shaheryar meninggalkan Julia terlebih dahulu. Penerbangangan keKarachidua jam lebih cepat daei pada penerbangan Julia keJakarta. Mereka berdiri didepan gerbang keberangkatan. Julia merasakan sesuatu mengganjal didlm perutnya. Ia tidak ingin kehilangan lelaki ini, lelaki yg baru dikenalnya selama beberapa jam, tetapi telah meninggalkan seumur hidup dlm benaknya.
Sahah menggertakkan rahang ketika panggilan terakhir diumumkan lewat pengeras suara. Ia mengusap lambut Julia, lembut. "May I give you a hug?" tanyanya sambil mengembangkan kedua lengan. Julia mengangguk. Sahah merengkuh Julia kedlm pelukkannya. Saat itu semua terasa sempurna. Natural. Seperti seharusnya. Julia membalas pelukkan itu, erat. Detik berikutnya, bibir mereka bertemu. Ciuman itu hanngat. Lama. Dan terasa begitu nyaman. Familier. As if it's meant to be.
Julia bilang, saat itulah ia tahu bahwa mereka berdua, ia dan Shaheryar, adalah humsafar. Kekasih. Belahan jiwa. Teman hidup. Kawan seperjalanan.
"Aku melihat serpihan kursi dan tempat tidur dijalanan"' ujar Shaheryar dng napas terengah-engah, Suaranya nyaris tertelan kebisingan dilatar belakang: orang-orang berbicara dan menjerit, sirine meraung-raung, juga gemerisik, sambungan internasional. "I'll call you back okay? I love you".
Julia mendekap telfon genggam itu didadanya, kemudian menyalakan televisi. Al-JAzerah tengah menayangkan serangan langsung mengenai pemberontakan taliban yg menabrakan mobil berisi 300kg bahan peledak kerumah pejabat kepolisian diKarachi, Pakistan. Delapan orang tewas dlm bom bunuh diri itu. Julia melihat jalan yg dipenuhi debu, blok-blok semen, pecahan kaca, serpihan kaya, dan lubung besar yg menganga ditempat bom meledak. Sekelompok polis, rangers, dan wartawan menjepretkan kamera seliweran di latar belakang.
Julia membiarkan televisi menyala, kemudian pergi kedapur utk membuat secangkir kopi. Pukul setengah sebelas pagi di Jakarta, pukul setengah delapan pagi diKArachi. Julia bertanya-tanya apakah Shah sempat minum kopi pagi itu. Sebagai editor dikoran berbahasa inggris diKarachi, Shah biasa berangkat kekantor pada pukul tujuh malam dan pulang pada puku empat or lima pagi. Ia akan mengendarai mobilnya pelan-pelan, lalu berhenti sesekaliutk memotret langoit dan matahari terbit. Foto-foto inilah yg akan dikirimkan kepada Julia melalui e-mail begitu ia sampai diflatnya, tak jauh dari stadion kriket.
Selama beberapa jam setiap pagi, mereka akan berbincang lewat internet; hingga pukul sebelas waktu JAkarta-ketika Julia harus undur diri utk menyiapkan makan siang bagi tamu-tamu wastu.
"Kapan kalian akan bertemu lagi?" Tanyaku siang itu. "Sudah hampir setahun ya?"
Julia tersenyum seraya mencuci dua iket bayam dibawah keran. "ketika waktunya tiba", katanya.
Aku baru mengetahui hal ini kemudian hari: Julia dan Sahah tak pernah bertemu lagi.
Pagi itu gelap. Sudah hampir dua bulan berlalu setelah ledakan bom itu. Diluar hujan. Seperti biasa, Julia terbangun pada pukul setengah lima pagi. Ia mencuci muka dng air dingin, mematikan lampu diberanda depan, lalu pergi kedapur utk membuat kopi-menyesap pelan-pelan sambil mengecek pesan-pesan dilayar komputer portebelnya. Tagihan-tagihan. Penawaran penyediaan batu nisan. Dan sebuah pesan. Dari Pakistan. Dikirimkan sekitar tengah malam.
Jahanzaib adalah rekan kerja Shah di Tribune, Ia menemukan Julia dari sebuah buku catatan dilaci meja Shah. Ada surat-surat yg dituliskan utk Julia disana. Tugaratus tiga pulh enam surat yg diberi tanggal dng rapih; satu utk setiap hari. Pesan-pesan yg selalu diawalai dng kata Jaan dan ditanda tangani dng humsafar. Surat-surat yg tak pernah dikirimkan.
Kemudian barulah ia menyampaikan kabar itu kepada Julia. Saya turut berduka cita atas kehilanganmu, Tulis Jahanzaib.
Ada pihak-pihak yg tak suka dengan tulisan-tulisan Shah. Belakangan, Shah semakin mengangkat perihal pergerakkan kaum nasionalis Baloch di Khuzdar. Sudah ada tujuh wartawan yg terbunuh di Balochistan, Dua hari yg lalu, Shah menjadi yg kedelapan. Ia ditemukan tewas ditepi sungai di distrik Kech, dng dua luka tembak didadanya. Kemarin jenazahnya sudah dibawa pulang keKarachi dan dimakamkan di Qayyumabad.
Sebelum mengakhiri e-mainya, Jahanzaib mengatakan bahwa esok siang ia akan mengemasi barang-barang kedlm kardus. Bersama pimpinan redaksi Tribune, ia akan mengantarkan barang-barang itu dan menyerahkannya kepada istri Shah; yg juga tengah berduka cita diflat mereka di Federal-B-Area.
Seberapa banyakkah yg benar-benar kita ketahui tentng orang yg kita cintai ? kata Julia, sering kali , hanya sedikit. Menarinya, semakin lama kita mengahbiskan waktu bersama orang yg kita cintai, semakin dikit kita mengenalnya. Kebiasaan-kebiasaannya jadi sedemikian dekat. Hal-hal yg familier. Tetapi beberapa hal penting menjadi semakin jauh dan berpagar : Impian, Hasrat, Rahsia.
In the end, even your loved ones are stongers.
Setalah aku menimbun dan menambahkan tanah disisinya, yg tertinggal hanyalah gundukan kecil, Julia menaruh nisan kecil diatasnya, juga setangkai bunga matahari. Ia memegang payung ditangan kiri dan buku bacaan ditangan kanan.
Sering aku bertanya, seberapa banyakkah sesungguhnya yg ku ketahui tentang Julia. Seberapa banyak sisi dirinya yg ia perlihatkan kepadaku.
Hari itu, aku meninggalkan Julia duduk disana seharian. Demikian pula pada hari-hari berikutnya. Bulan-bulan berikutnya. Tahun-tahun berikutnya. Frekuensinya memang semakin jarang, tapi Julia masih sering duduk disana sesekali. Menatap langit. Membaca. Atau belakangan, belajar melukis dng cat air. Bahkan setelah kami menikah tiga tahun kemudian, aku masih bisa menemukan Julia disana, ketika langit tengah menurunkan hujan.
THE END
